Dakwah Fardiyah adalah dakwah dengan pendekatan personal atau pribadi
kepada objek dakwah. Dakwah fardiyah hanyalah salah satu aspek dari
sekian banyak aspek dalam berdakwah, seperti dakwah melalui tulisan,
dakwah dengan ceramah, tabligh dan lain sebagainya.
Keungulan dakwah fardiyah dibandingkan dengan metode dakwah lainnya
adalah dakwah dengan metode ini bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun.
Hasilnya pun bisa lebih dipantau dan bisanya output yang dihasilkan jauh
lebih berkualitas dibandingkan dakwah dengan metode lainnya.
Bagaimana selanjutnya tahap-tahap dakwah fardiyah itu? Dan apa-apa saja yang diperlukan di dalamnya?
Pertama,
membina hubungan yang baik dengan objek dakwah. Membina hubungan yang
baik dengan objek dakwah, merupaka tahapan yang paling menentukan.
Karena disinilah akan tercipta keterikatan hati (taliful qulb) antara
sang da’i dengan objek dakwahnya. Karena itulah tahap ini diletakkan
pertama kali dalam tahapan dakwah fardiyah ini. Bila sudah tercipta
keterikatan hati maka akan sangat mudah bagi kita “memasukkan”
materi-materi atau nilai-nilai yang ingin kita dakwahi.
Kedua,
membangkitkan keimanan yang mengendap dalam jiwa. Hal pertama kali yang
terus ditanam oleh Nabi SAW kepada para sahabat adalah tauhidullah,
keimanan yang kokoh kepada Allah. Tidak bergantung kepada selain Allah
SWT. Hal ini bisa dilakukan dengan mengingatkan objek dakwah akan
kebesaran dan nikmat-nikmat Allah yang bertebaran disekitarnya. Atau
cara-cara lain yag sesuai dengan kondisi objek dakwah yang bersangkutan.
Ketiga,
membantu memperbaiki keadaan dirinya dengan ibadah-ibadah yang
diwajibkan. Selanjutnya, saat keimanan telah tumbuh, maka da’i harus
mulai memperhatikan baik kuantitas maupun kualitas ibadah objek
dakwahnya. Karena dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan Islam inilah
seseorang bisa semakin dekat kepada Rabbnya dan semakin memperkokoh
keimanan yang telah mulai tumbuh. Perhatikan, masalah ibadah disini
hanya menyangkut ibadah mahdah atau ibadah ritual bukan ibdah secara
umum.
Keempat,
menjelaskan tentang kesyumulan ibadah, bahwa ibadah tidak hanya
terbatas pada ritual-ritual shalat, puasa, zakat, dan haji saja. Akan
tetapi aktivitas apapun yang dilakukan selama itu diniatkan karena Allah
SWT, maka aktivitas tersebut adalah ibadah. Dengan demikian objek
dakwah semakin merasa bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah SWT dan
mulai merasakan lezatnya iman dan ibadah kepada Allah. Iman dan jiwanya
menjadi hidup.
Kelima,
menjelaskan kewajiban berdakwah kepada sesama muslim. Bahwa
keberagamaan kita tidak cukup hanya dengan keislaman kita sendiri. Pada
tahap inilah objek dakwah mulai berganti “status” menjadi subjek dakwah.
Objek dakwah mulai dikenalkan bahwa berislam dan menjadi shaleh tidak
cukup dinikmati sendiri. Tetapi Allah SWT telah memerintahkan kepada
kita untuk berbuat amar makruf nahi munkar. Disini juga mulai dikenalkan
mengenai urgensi berdakwah kepada objek dakwah.
Keenam,
menjelaskan bahwa kewajiban diatas tidak mungkin dilaksanakan secara
individu (Infiradhi) tetapi harus dilaksanakan secara kolektifitas
berjamaah (Amal Jama’i). Setelah itu objek dakwah juga mulai
diperkenalkan dengan amal jama’i. Bahwa beban dakwah ini tidak mungkin
dapat dipikul seorang diri. Tidak mungkin seorang menjadi “superman”
dakwah tetapi yang ada adalah “supertim” dakwah yang bekerja dalam
keteraturan dan harmonisasi kerja.
Ketujuh,
mengenalkan dengan jamaah mana ia harus bergabung dan memberikan
kontribusinya untuk keberlangsungan dakwah Islam. Ada beberapa
karakteriskitik jamaah yang pantas dan benar untuk kita memberikan
afiliasi kita kepadanya diantaranya adalah jamaah yang megikuti manhaj
(metode) Rasullullah dalam dakwahnya, yaitu mempersiapkan seorang muslim
untuk memiliki akidah yang kokoh, ibadah yang benar dan akhlak yang
mempesona.
Disamping itu jamaah tersebut haruslah mengambil islam secara utuh dan
integral, tidak parsial atau setengah-setengah. Begitu pula dalam
melaksanakan islam. Selain itu jamaah yang patut diikuti adalah jamaah
yang terorganisir dengan baik. Program-programnya teratur dan terencana
sehingga mungkin untuk dilaksanakan.
Dalam melakukan dakwah fardiyah, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan para pelaksana dakwah fardiyah. Pertama,
harus dilakukan secara tertib dan berurutan. Menyalahi urutan tahapan
dakwah, dapat menyebabkan penolakan objek dakwah terhadap pesan-pesan
dakwah. Kedua, janganlah terburu-buru dan tergesa-gesa dengan ingin melihat hasil bukan proses yang di jalankan.
Hanya karena ingin objek dakwah sampai kepada tahapan yang lebih tinggi,
seorang da’i lalu bertindak gegabah dalam meningkatkan tahapannya.
Padahal ia belum mempunyai keyakinan dan penerimaan yang sempurna
terhadap setiap tahapan yang dilalui.
Ketiga, jalan dakwah Islam harus
benar-benar bersih. Bersih seluruh prasyaratnya dari prasangka negatif,
bersih seluruh amal Islamnya dari nilai-nilai syubhat, dan tentunya
bersih pengembannya dari maksiat. Wallahu’alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar